PERENCANAAN PADA PUBLIC RELATIONS

PEMBAHASAN PERENCANAAN PADA PUBLIC RELATIONS
Pembahasan selanjutnya mengenai perencanaan public relations Pada dasarnya tujuan umum dari program kerja dan berbagai aktivitas Public Relations atau Humas di lapangan adalah cara menciptakan hubungan harmonis antara organisasi/perusahaan yang diwakilinya dengan publiknya atau stakeholder sasaran khalayak yang terkait. Hasil yang di harapkan adalah terciptanya citra positif (good image), kemauan baik (good will), saling menghargai (mutual understanding), toleransi (tolerance) antara kedua belah pihak.
Tujuan dari proses  perencanaan program kerja untuk mengelola berbagai aktivitas PR/Humas tersebut dapat diwujudkan jika terorganisasi dengan baik melalui manajemen Humas yang dikelolah secara professional dan dapat dipertanggungjawabkan hasil atau sasarannya.
Aktivitas praktis Humas/PR dilapangan mencakup sebagai konseptor (Conceptor), penasehat (counselor), komunikator (communicator), dan penilaian (evaluator) yang handal. Oleh karena itu, menjadi sangat penting apabila pejabat Humas/PR dituntut untuk memiliki kemampaun memecahkan berbagi macam masalah yang dihadapinya dalam organisasi.
Scott M. Cutlip & Allen H. Center (Prentice Hall, Inc. 1982:139), menyatakn bahwa proses perencanaan program kerja melalui “proses empat tahapan atau langkah-langkah pokok” yang menjadi landasan  acuan untuk pelaksanaan program kerja kehumasan adalah sebagai berikut. Pertama, Penelitian dan Mendengarkan (Research Listening). Kedua, Perencanaan dan mengambil Keputusan (Planning Decision). Ketiga, Mengkomunikasikan dan pelaksanaan (Communication Action). Keempat, Mengevaluasi (Evaluation). Tiap tahapan dari keempat tahapan yang disebutkan di ats saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya. Artinya tahapan satu dengan tahapan yang lainnya saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam proses 4 tahapan  tergambar “plan your work, and work your plan,” rencanakan kerja anda, dan kerjakanlah rencana anda.
Setiap tahap dari proses kerja PR di atas, sama pentingnya bagi terlaksananya suatu program PR yang efektif. Sayangnya banyak diantara praktisi PR yang kurang menyadari akan hal tersebut sehingga dalam menentukan dan melaksanakan program mereka seringkali mengabiakan tahap-tahap di atas. Tahap yang paling sering diabaikan adalah penelitian,perencanaan dan evaluasi. Sebaliknnya, banyak di antara mereka yang terlalu banyak memfokuskan pekerjaan pada publisitas, yang sebenarnya akan secara otomatis muncul apabila program PR dirancang berdasarkan penelitian, perencanaan dan evaluasi yang serius.
Rumusan perencanaan yang matang, akan menghasilkan suatu program PR yang efektif. Perencanaan program PR didasarkan kepada fakta dan tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, perlu ditekankan bahwa penelitian merupakan hal yang sanagt vital dalam membuat suatu perencanaan program PR.
Definisi perencanaan kerja menurut pakar public relations, Frank Jefkins (1988:13), yaitu terdiri dari semua bentuk kegiatan perencanaan organisasi dan publiknya yang tujuannya untuk mencapai saling pengertian.
Perencanaan kerja public relations tersebut berkaitan dengan pengertian, perencana, perencanaan, wujud rencana kerja dan alasan dilakukannya perencanaan kerja Humas, termasuk manfaat dan klasifikasi perencanaan kerja tersebut.
Untuk membentuk perencanaan program PR, seorang praktisi humas harus terlebih dahulu mengetahui dan memahami tujuan yang ingin dicapai oleh organisasinya. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan di Ohio, AS 1989 diketahui bahwa hanya 53% dari para praktisi yang tidak mengetahui dengan pasti tujuan organisasi sebelum melakukan perencanaan program PR. Akibatnya timbul hambatan sebagai berikut :
1.  Kegagalan manajemen menyertakan para pelaksana untuk turut serta mempertimbangkan perumusan kebijakan dan program kerja organisasi.
2.      Kurang tercapainya kesepakatan mengenai tujuan-tujuan dari pelaksanaan program PR.
3.      Kurangnya waktu karena tersita oleh pembahasan-pembahasan mengenai masalah sehari-hari.
4.    Kelambatan dan frustasi yang dialami oleh para pelaksana karena kurangnya koordinasi dengan departemen terkait lainnya.
Menurut Cutlip, Center & Broom (2000) perencanaan dan program PR harus didasarkan kepada analisis lingkungan situasi dan kondisi sebagai berikut.
1.      Pelunasan masa lampau atau sejarah organisasi untuk menetapkan faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam situasi yang sedang terjadi.
2.      Penelaahan terhadap faktor-faktor dan pendapat yang dipertimbangkan, dipandang dari sudut tujuan organisasi dan kemampuan internal organisasi.
3.  Melihat kecenderungan-kecenderungan yang ada pada berbagai aspek (politik, social, dan ekonomi) di sekeliling kita, serta  situasi dan kondisi saat ini untuk rencana mendatang.
4. Jauh memandang ke depan tujuan dan pelaksanaan program dan organisasi ditentukanberdasarkan misi organisasi yang cukup realistic dan kemudahan dalam mencapai tujuan.
Perencanaan program kerja PR mau tidak mau harus dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan organisasi tersebut di atas, sehubungan dengan ini, terdapat dua program PR yang bersifat mendasar yaitu program PR yang bersifat preventif dan bersifat remedial. Program PR yang preventif adalah suatu program yang  direncanakan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan oleh organisasi, sedangkan program remedial sehubungan dengan perbaikan situasi dan kondisi yang terjadi pasca krisis. Perencanaan kerja PR, berkait dengan hal-hal berikut :
1.      Tiga Dasar
Ada tiga dasar yang hakiki  agar rencana Program PR dapat berhasil dengan baik, yaitu :
a.       Rencana Program harus dibuat dengan teliti dan harus didukung oleh pihak manajemen.
b.      Rencana Program tersebut harus mempunyai tujuan.
c.       Dilakukannya pengarahan mengenai Rencana Program tersebut.
PRO (praktisi PR) tidak boleh berurusan dengan “PR rabun” atau rencana Program yang direncanakan tidak jelas. Agar berhasil program harus disusun terlebih dahulu dan disesuaikan dengan ruang lingkup tempat (dalam arti non harafiah) dimana PRO bekerja di perusahaan bear atau kecil. Bila ruang lingkup cukup besar maka dibuat rencana program untuk 3 tahun di mana diperlukan rencana program yang matang, yang dibuat perencanaannhya 3 bulan sebelumnya.
2.      Unexpected Case
Dalam praktik, seorang PRO sering dihadapi dengan sesuatu yang  berada di luar perkiraan atau tujuan rencana program. Maka rencana program harus dibuat sebaik mungkin.
3.  Faktor Utama Rencana Program
a. kegiatan yang akan dituangka n dalam bentuk pro-pasal perencanaan kerja PR, termasuk special events seperti : Product  launcing, facility visit, penandatanganan kerja sama, atau kegiatan laiinya seperti : pameran, promosi, sponsorship, dan kampanye.
b. perencanaan anggaran yang merupak faktor yang paling penting. Tidak ada legiatan tanpa pengeluaran dan pemasukan uang. Anggaran bisa meliputi : honorarium, biaya-biaya trasportasi, akomodasi, konsumsi dll.
c. Perizinan dari yang berwenang.
d. Strategi pelaksanaan suatu kegiatan.
e. Meeting atau Rapat Periodik.
f. Perekrutan karyawan yang akan dilibatkan dalam pekerjaan termasuk job-desccriptionnya.
g. Penyediaan property untuk hal-hal yang akan muncul secara tidak terduga.
4. Pentingnya rencana Program PR
Rencana program PR sama pentingnya dengan menciptakan suatu fondasi yang kuat untuk sebuah bangunan. Seseorang tidak akan dapat membangun gudang bertingkat bila hanya memiliki kuli-kuli, material dan uang saja, tanpa dilengkapi dengan perencanaan arsitektur dan budget yang matang.
Dukungan dana, tenaga, property, dan lain-lain pada waktu pelaksanaan rencana program adalah mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan yaitu melalui:
  1. Ketentuan Rencana Program PR
a.       Budget seharusnya dimasukkan ke dalam rencana program PR yang diajukan setahun di muka.
b.      Konsultasi PR harus membuat “proposal rencana kerja” termasuk rincian budget.
c.       Derajat PR akan naik apabila mempunyai inisiatif untuk membuat suatu proposal rencana program dan budget walaupun manajemen tidak mengharapkan PRO untuk membuatnya.
  1. Jadwal Rencana Program Harian
Rencana kerja PR memang akan menjadi rumit karena banyak yang harus dikerjakan pada saat yang bersamaan dan ditambah lagi berbagi hal yang tidak  diduga dapat muncul begitu saja.
  1. Hubungan Pers Efektif
Untuk mendapatkan hubungan yang efektif denagn pers, PRO juga harus membuat Rencana Program. Catatan lengkap dari rencana jumpa pers, tanggung jawab PRO pada acara jumpa pers dan input serta hasil-hasil dari jumpa pers tersebut merupakan “evaluasi” bagi keberhasilan atau ketidak berhasilan tugas seorang PRO.
  1. Control Waktu dan Pengecekan
Control waktu merupakan hal yang sanagt penting bagi PRO atau Konsultan PR agar tidak terjadi jadwal yang tumpang tindik. Cara yang terbaik untuk  mengontrol waktu adalah memakai lembaran harian/mingguan sederhana yang merupakan hasil rekaman dari kegiatan atau penggunaan waktu Konsultan PR.
Rencana program PRO/konsultan PR menurut Cutlip, Center & Broom (2000:374), harus m3ngikuti pola sistematik yang berlaku untuk seluruh operasional pelaksanaan rencana kerja PR yaitu sebagai berikut :
1.      Kerja PRO tidak dapat direncanakan tanpa pengetahuan yang mendetail mengenai fakta, data dan informasi.
2.      Menentukan tujuan apa yang hendak dicapai.
3.      Menentukan tujuan apa yang akan dituju.
4.      Memilih media dan teknisnya.
5.      Rencana pengeluaran/pemasukan dana secara rinci termasuk biaya tak terduga.
6.      Evaluasi hasil-hasil yang dicapai.
Tidak kalah pentingnya dari enam pola sistematik tersebut adalah kesungguhan dan disiplin kerja. Sehingga rencana kerja dapat memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan  PR dan organisasi atau perusahaan.

Sumber : Ruslan, rosady. 2005. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Audit Perbankan Syariah

Gojek itu keren